Tuesday, 26 June 2018

Syukur

Saat ada yang bisa bayar uang kuliah dan saya tidak, saya bersyukur ada tangan dermawan yang membantu saya selama saya kuliah.
Saat ada yang bisa punya motor sendiri dan saya tidak, saya bersyukur ada ibu yang bisa mengantar saya dan ongkos yang cukup untuk naik angkot.
Saat ada yang punya novel banyak dan saya tidak, saya bersyukur kampus saya punya fasilitas  perpustakaan yang isinya tidak hanya buku nonfiksi.
Saat ada yang tinggal di rumah pinggir jalan dan tidak berdempetan di dalam gang dan tidak seperti saya, saya bersyukur orang tua saya mampu menaungi anak-anaknya dari hujan dan panas.
Saat ada yang punya cukup waktu istirahat setelah pulang kuliah dan saya harus mengajar privat demi sedikit upah, saya bersyukur ilmu saya berguna untuk mereka dan kami.

Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya.

Monday, 26 March 2018

Me Vs Disk 100% Windows 10


Sebal sekali saat sedang ‘asyik’ kerja, tiba-tiba laptop nge-freeze dan nggak bisa diapa-apakan. Jalan satu-satunya adalah mematikan paksa dengan menekan tombol power sampai layar mati. Beberapa waktu lalu saya pernah berkonsultasi dengan petugas IT di kantor. Dia lalu membuka Task Manager dan menunjukkannya kepada saya, katanya itu gara-gara Memory yang mencapai 100%  saat digunakan. Akhirnya saat itu beberapa aplikasi di-uninstall oleh petugas tersebut. Selama beberapa minggu laptop saya kantor itu baik-baik saja, tidak pernah nge-freeze lagi.

Dan hari ini saya muak dengan tingkah nge-freeze-nya yang kembali kambuh, padahal baru pukul 9 pagi, belum kerja berat, aplikasi yang dibuka baru satu jendela windows explorer dan beberapa file excel, ditambah browser berisi 5 tabs. Untuk laptop dengan RAM 8GB, berprosesor Intel Core i7 quad-core masing-masing 2,5Ghz, sepertinya sungguh keterlaluan jika harus stuck untuk pekerjaan remeh begitu. Akhirnya saya teringat diagnosa petugas IT beberapa minggu lalu. Saya buka Task Manager dan menemukan angka pada Disk mencapai 100%. WTFrenchFries, kok bisa. Lalu saya meng-Google permasalahan ini, dan menemukan sebuah website menawarkan 8 metode  mengatasi Disk 100% pada Task Manager. Kamu bisa cek DI SINI.

Setelah saya baca-baca, saya hanya berani melakukan metode ke-7, Fix your storAHCI.sys drivers. Namun, setelah saya ikuti langkah-langkah di metode ke-7 dan menyalakan ulang laptop, Disk saya masih menunjukkan angka 100%, padahal posisinya baru dinyalakan, belum ada aplikasi yang saya buka, kecuali Task Manager untuk mengecek kapasitas Disk.

Saya membaca ulang halaman website yang tadi dan akhirnya memutuskan untuk mencoba metode ke-4, Reset virtual memory. Hasilnya? Sukses. Disk menunjukkan angka normal, tidak 100% tanpa sebab lagi.

Seperti biasa, ini baru postingan pengantar saja, curhat dulu, senang gara-gara berhasil  menang perang sama Disk 100%, wkwk. Tutorialnya akan saya post sepulang kantor, insya Allah.

Sunday, 28 January 2018

Markibung!

Dari dulu saya sukaaa sekali sama buku. Saya lebih milih main ke toko buku daripada main ke Timezone. Bacaan favorit saya jaman SD adalah majalah Bobo, seneng banget ngoleksi itu sampai pernah berdoa agar bisa berlangganan Bobo selamanya. Saya juga suka baca komik dan novel ringan, sampai saya daftar jadi anggota Taman Bacaan Lovy. Biasanya saya pinjam One Piece, Kobochan, Monika, kumpulan cerpen, Goosebumps, daan masih banyak lagi, entahlah saya lupa.

Mulai SMP saya belajar baca novel yang lebih tebal. Perkenalan pertama dengan Harry Potter and The Chamber of Secret. Saya baca itu setelah berkunjung ke rumah teman dan malah diajak nonton film Harpot, eh suka, eh ketagihan. Kebetulan om saya dulu pernah punya perpustakaan kecil-kecilan, dan salah satu koleksinya itu serial Harpot. Saya menemukan novel kedua serial Harpot itu terbengkalai di rak bawah meja tamu, makanya saya bawa saja tanpa izin si pemilik, hhe.

Zaman berubah, teknologi mulai menguasai setiap lini kehidupan. Smartphone menjamur, semua orang dari anak-anak sampai kakek-nenek sudah terbiasa dengan barang satu ini. Dampak positifnya, sekarang informasi apapun sangat mudah didapat melalui layar kecil itu. Dampak negatifnya, itu terlalu mudah, membuat otak kurang berlatih, kurang nge-gym. Apa yang ada di smartphone juga sering membuai si pemilik, salah satunya games. Saya ikut merasakan dampak negatif itu. Saya sadar perubahan pada hobi saya. Saya sudah kurang terbiasa lagi membaca novel-novel tebal, kalaupun saya baca, pasti memakan waktu lama, padahal dulu Harry Potter and The Goblet of Fire saya habiskan kurang dari seminggu.

Saya tidak ingin generasi saya selanjutnya terkena dampak negatif smartphone. Saya harus membuat mereka senang membaca, haus akan ilmu, belajar sungguh-sungguh, berpikir hingga lelah, berkarya seorisinal mungkin, bukan asal copy-paste dari hasil pencarian di Google, mencontek itu namanya, no no no, tidak boleh.

Dan saya menemukan hal-hal menggemaskan ini.



Saya tidak sabar membeli itu semua, saya tidak sabar membacakan cerita-cerita, menemani mereka bermain sambil belajar,  menjawab pertanyaan-pertanyaan polos yang mengejutkan, pokoknya saya ingin memberikan yang terbaik pada masa golden age-nya. Tidak murah, tapi bukan sesuatu yang terlalu mahal untuk investasi jangka panjang. Saya akan usahakan yang terbaik. Markibung, mari kita nabung!

Monday, 22 January 2018

Hi Blogspot

Long time no see.

I'm going to Bakaru this morning, search it on Google so you'll know where it is located. I'll be there insya Allah for five days, such a looong time. I'll be doing assets stocktaking with five others. And you know the horrible part (if staying there for almost a week is not horrible enough), there are more than one thousand assets! If it's not a teamwork, there is no way we can make it in only five days. If it's not with some strong men, there is no way we can go looking for assets in a building with more than five floors (no offense to woman, but that's the fact).

Alright, I'm taking off.

Tuesday, 26 December 2017

I know you might not like it

I was a fangirl of a boyband group. I loved them like I knew them. I talked about them to friends like we all knew each other. I had even been familiar with every member’s voice. I did make a fiction story about them, like I really knew their characters.

It was very long time ago. Now I don’t even care they plan a comeback concert in 2018, I didn’t, until a shocking news spreaded. One of the members committed suicide. I didn’t cry–my lil sis did, later she finally told me that she did cry, a bit though. I was just a bit surprised. He was the type of talkative member, lots of laughter, smile, joking around, yeah he was, like years ago when the last time I watched their shows. Knowing he committed suicide is like…really…?

Since yesterday I’d looked around youtube for their old videos. I know it’s silly, yet I can’t help it. My sis and I even chatted on Whatsapp–one of the longest convo ever–she still likes the group. We talked about them, I asked her not to cry cause suicide is unforgivable in our religion, so don’t cry for such a death. She knows it. She just told me that he was depressed. Okay, I feel sorry for it, I was asking where his friends, the other members. My sis said it seemed to be a depression after his solo concert this year. I even feel more sorry. Nobody ever wants to be lonely. I don’t know exactly what he was facing, but one I know that depression arises from loneliness.

I know you might not like what I’m doing. I just want to tell you the other side of mine that you might never know. Sometimes I do silly, unimportant, and unfaedah things.

Sunday, 17 December 2017

Diklat Prajabatan PLN Angkatan 49 (Part 2)

Part 1 tulisan ini sudah di-post lebih dari setahun yang lalu. Duh, betapa malasnya saya melanjutkan tulisan yang belum rampung ini. Semoga saya masih ingat.

3. Pengenalan perusahaan (Minggu terakhir November 2015/Minggu pertama Desember 2015)
Dari Lembang, kami dibawa ke Udiklat Bogor untuk selanjutnya mengikuti Pengenalan Perusahaan. Kami akan segera mendapat pembelajaran singkat mengenai proses bisnis PLN selama empat hari.

Sesampainya di Udiklat Bogor, kami disambut seorang komandan. Padahal, saya mengira setelah beres kesamaptaan, kami bisa lepas dari komandan TNI, ternyata tidak. Begitu turun dari bis, kami disuruh jalan jongkok sejauh kurang lebih 50 meter. Lutut kanan saya sudah kebas rasanya, jadilah saya curi-curi kesempatan untuk sedikit berlari dengan posisi normal saat komandan tidak memperhatikan.

Koper kami diturunkan dari mobil pengangkut khusus koper dan barang bawaan lainnya, cukup menyita waktu karena jumlah kami yang kala itu ada sekitar 400-an orang. Bawaan saya saat itu rada riweuh, 2 ransel, 1 koper, 1 ember beserta isinya, dan keresek hitam lumayan besar berisi baju kotor kalau saya tidak salah ingat. Padahal saat berangkat dari rumah menuju Lembang saya hanya membawa 1 ransel dan satu koper.

Udiklat Bogor ini legend sekali, guys. Selalu menjadi bahan pembicaraan mengenai jarak ruang makan yang cukup jauh dari mes. Jalan yang menanjak dan menurun menambah keseruan setiap kali bercerita perjuangan menuju ruang makan Udiklat Bogor. Selalu dibilang seperti ini, "Berangkat ke ruang makan lapar, sampai di mes sudah lapar lagi."

Di sana tiga atau empat malam kami menginap di Udiklat Bogor. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5, kami sudah harus naik bis untuk berangkat menuju PLN Pusat, tempat program Pengenalan Perusahaan dilaksanakan. Bahkan sarapan pun kami lakukan di dalam bis yang berjalan.

Di setiap sesi materi Pengenalan Perusahaan, kami diharuskan membuat rangkuman. Begitu terus kegiatan kami selama empat hari program ini dilaksanakan. Di sesi terakhir hari keempat, diumumkan pula bidang kami masing-masing. Saat itu aku masuk dalam bidang niaga dan akan melaksanakan pembidangan di Udiklat Pandaan.

4. Pembidangan (Desember 2015 - Januari 2016)
Inilah masa-masa penggemukan. Kami tidak banyak dituntut mengerjakan macam-macam. Hanya belajar, belajar, dan belajar. Makan terjamin lima kali sehari. Sarapan, snack pagi, makan siang, snack sore, dan makan malam. Olahraga setiap habis subuh dan sore hari, itu pun tidak terlalu berat bila dibandingkan saat kesamaptaan.

Selama kurang dari satu bulan kami, bidang niaga, melaksanakan pembidangan di SLB di daerah Malang, katanya karena Udiklat Pandaan-nya sedang penuh, makanya kami 'diungsikan' sementara ke SLB. Di sinilah untuk pertama kalinya saya berinteraksi langsung dengan banyak orang Sumatera, lengkap mulai dari Medan, Aceh, Pekanbaru, Padang, Lampung, hingga Palembang.

Sekitar akhir 2015 atau awal 2016, kami pindah ke Udiklat Pandaan. Bertambah lagi teman-teman yang kami kenal, karena di Udiklat Pandaan ini sudah menunggu rekan-rekan angkatan kami dari bidang distribusi.

Di akhir program pembidangan dilaksanakan ujian tertulis. Alhamdulillah angkatan kami dinyatakan lulus semua dan dapat lanjut ke tahap berikutnya. Yang paling ditunggu-tunggu dari setiap akhir program adalah, "Akan ke mana lagi kita sekarang?"

5. On The Job Training/OJT (Februari - April 2016)
Saya dan sekitar 50 orang lainnya dapat tempat OJT di Lombok, yeay. Luar biasa senangnya waktu itu. Sudah terbayang pantai-pantai yang asyik untuk disinggahi, kebetulan saya suka banget main air, padahal nggak bisa renang, huu

Bertambah kesenangan saya ketika penempatan OJT saya ternyata di kota Mataram, tepatnya di Rayon Ampenan. Saya menjalani OJT di sana bersama dengan 10 orang lainnya, 6 dari bidang distribusi, dan 4 dari bidang niaga. Kami mengontrak rumah tidak jauh dari Rayon Ampenan. Setiap pagi kami hanya perlu jalan kaki sekitar 10 menit paling lama untuk sampai di kantor.

Mataram itu tempatnya enak. Nggak adem, tapi nggak panas juga. Kotanya nggak terlalu ramai, jadi nggak macet. Tapi sudah ada mall di sana, ada bioskop juga. Mau ke pantai dekat, ada Senggigi, atau yang paling dekat, pantai Ampenan, haha. Mau cari makanan mudah dan masih terjangkau semua harganya.

Kerjaan kami tiap sabtu minggu pasti jalan-jalan. OJT jadi kayak On the Job Traveling. Cari persewaan motor atau mobil juga mudah. Nggak perlu pemandu juga karena sudah ada GPS. Tinggal modal berani saja, haha.

Pantai yang paling saya ingat itu Sekotong. Tenaang banget air lautnya, jadi lebih kayak kolam renang daripada pantai. Airnya jernih luar biasa, di tengah-tengahnya ada pulau, entah apa namanya. Pokoknya Sekotong masya Allah indahnya.

Kalau pantai yang paling sering dikunjungi itu Senggigi karena paling dekat. Di sana saya mencoba pengalaman surfing ala ala bocah, saya cuma tiduran saja di atas papan, itu pun sudah sulit sekali dan berkali-kali saya tercebur. Telapak kaki saya lecet-lecet parah karena banyak menginjak terumbu karang, baru ketahuan pas sampai di kontrakan.

Hari-hari OJT saya lebih disibukkan dengan survey TNP2K. Bersyukur banget ada survey ini, saya jadi tahu banyak seperti apa penduduk asli Lombok. Sebuah pengalaman yang berharga bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat asli sana.

Selain survey, pekerjaan yang menantiku adalah billing, di sini kami diajari bagaimana memproduksi jumlah kwh yang tercatat pada lembar tagihan pelanggan. Diajari tentang DLPD (Daftar Langganan Perlu Diperhatikan), ini yang jumlah kwhnya tidak rasional, dari DLPD ini bisa dibuat menjadi TO (Target Operasi) untuk P2TL (...apa yah kok saya lupa kepanjangannya 😅). Intinya P2TL ini aktivitas pemeriksaan kwh meter pelanggan yang diduga berbuat curang.

Ngomong-ngomong P2TL, selama OJT pulalah kami mendapat pengalaman deg-degannya berhadapan dengan pelanggan yang kena P2TL. Biasanya menurut cerita, ada saja pelanggan yang tidak terima dirinya di-P2TL, lalu mengancam petugas PLN dengan benda-benda tajam. Tapi alhamdulillah saya tidak bertemu pelanggan semacam itu. Paling tegang hanya adu argumen saja.

Di akhir masa OJT, kami diuji lagi dengan sidang PA (Project Assignment) dan STO (Science & Technology Olympiad) yang mana penyusunannya dilakukan selama OJT berlangsung. Jadi di tengah kesibukan survey TNP2K, billing, P2TL, dan traveling 😂, kami juga sibuk menyiapkan laporan PA dan STO ini. Selain sidang, diadakan pula ujian tulis secara online terkait bidang masing-masing, namanya SIUJO (err..saya juga lupa ini kepanjangannya apa 😅).

Ujian selesai, hasil sudah diumumkan, alhamdulillah saya lulus walaupun tidak berharap dapat nilai bagus karena saat sidang, kelompok saya sedikit mengalami kesulitan. Kini tinggal menunggu pengumuman penempatan.

Hari itu saya menangis terisak di telepon, berbicara dengan ibu, karena dapat penempatan nun jauh di Sulawesi, sebuah tanah yang sungguh asing bagi saya. Ada 13 orang yang berangkat ke Sulawesi dari Lombok, ketiga belas orang ini tidak ada yang tersenyum ketika sesi foto bersama berdasarkan penempatan. Hahaha. Mana komitmenmu bersedia ditempatkan di mana saja, Nak?

Sekian perjalanan saya hingga akhirnya 'terdampar' di Parepare ini. Masih bersyukur karena di sini masih lumayan ramai--mungkin hampir mirip Mataram, hanya saja di sini kotanya lebih kecil, tidak ada mall, dan tidak ada bioskop!

Thursday, 9 November 2017

Bimbang


Meja kerja tak berbentuk, ruangan dingin penuh hawa AC 20 derajat celcius

Sumpah, gue emang kangen banget sama bocah ini.

Julia memandangi selembar foto yang menempel di balik kaca meja kerjanya. Lima sahabat semasa SMA yang tidak akan pernah dilupakan Julia. Kelimanya duduk lesehan di sebuah cafe, Julia yang memang paling centil, yang mengambil foto selfie. Hilarious. Tempat tak terlupakan.
 
Apa dia masih sebocah waktu dulu?

Atau sudah berubah lebih dewasa?

Ah iya, seharian belum sempat cek email gara-gara rekonsiliasi foto-foto aktiva yang bikin mata juling.

Halaman muka email memenuhi seluruh layar laptopnya. Di paling atas kotak masuk, ada sebuah nama pengirim yang sangat dinanti-nantikan Julia.

Sidharta.

Julia deg-degan.

Sekilas awalnya matanya menguarkan kesal dan sesal telah mengirim email itu. Sid memang selalu menyebalkan.

Namun bagian NB selalu berhasil membalikkan suasana.

Pipi Julia memerah. Ingin segera ia balas email itu. Sedetik kemudian ia ragu.