Thursday, 9 November 2017
Bimbang
Meja kerja tak berbentuk, ruangan dingin penuh hawa AC 20 derajat celcius
Sumpah, gue emang kangen banget sama bocah ini.
Julia memandangi selembar foto yang menempel di balik kaca meja kerjanya. Lima sahabat semasa SMA yang tidak akan pernah dilupakan Julia. Kelimanya duduk lesehan di sebuah cafe, Julia yang memang paling centil, yang mengambil foto selfie. Hilarious. Tempat tak terlupakan.
Apa dia masih sebocah waktu dulu?
Atau sudah berubah lebih dewasa?
Ah iya, seharian belum sempat cek email gara-gara rekonsiliasi foto-foto aktiva yang bikin mata juling.
Halaman muka email memenuhi seluruh layar laptopnya. Di paling atas kotak masuk, ada sebuah nama pengirim yang sangat dinanti-nantikan Julia.
Sidharta.
Julia deg-degan.
Sekilas awalnya matanya menguarkan kesal dan sesal telah mengirim email itu. Sid memang selalu menyebalkan.
Namun bagian NB selalu berhasil membalikkan suasana.
Pipi Julia memerah. Ingin segera ia balas email itu. Sedetik kemudian ia ragu.
Wednesday, 8 November 2017
Kawan Lama
Di salah satu mobil yang mengular, kegelisahan
karena lapar yang menguji kesabaran
Pemuda berkaus polo lengan pendek memaki padatnya
jalanan di depannya. Hampir satu jam mobilnya tak beranjak ke manapun, sedikitpun. Ditambah lagi kegelisahan karena lapar yang melanda, perutnya
seakan tidak mau berkompromi lagi karena sejak siang majikannya tidak menyuplainya
makanan sesendokpun. Andai saja ada tukang asongan menjajakan cemilan. Sialnya ini jalan tol yang kiri kanannya bukit beton.
Sidharta menyandarkan kepalanya yang mulai pening,
antara karena kemacetan dan kelaparan.
Kalo
macet kayak gini terus, main hape sampe rabun juga bisa. Bersihin notif ah. Eh
tunggu dulu, kali aja ada yang penting.
10 Unread Mails.
Dropbox.
lina@jobstreet.com.
Kenapa
lo malas banget unsubscribe email ini, sih, Sid!
Change.org.
Mandiri Online.
Julia.
Sid terlonjak dari dudukannya, hampir saja ia
meninju klakson di depannya.
“Julia?” gumam Sid pelan. Julia yang itu?
Tidak sabar ia membuka email yang mengejutkan itu. Walaupun
sudah sekian tahun tidak saling mengabari, dengan tega ia mengutuki subjek
pesan dari Julia.
Apaan
dah ni anak bikin subjek alay banget.
Kedua ujung bibirnya tidak mampu menahan senyum
lebar. Matanya berbinar-binar. Meski sudah selesai ia baca sampai habis seluruh
isi pesan itu, ia kembali membacanya ulang dari atas, seolah ingin memastikan
kalimat barusan yang dibacanya itu bukan halusinasi akibat penat kemacetan dan rasa
lapar yang tidak tertahankan.
Jules... ngapain gue harus pura-pura, sih.
Seulas senyum jahil dan sorot mata licik tiba-tiba
mengembang di wajahnya.
Kepada: Julia
Apa kabar?Lama ga ketemu, tinggal di mana sekarang?Sibuk apa lo sekarang?
Jules, Jules... instead of saying those greetings, elo malah nge-email ga jelas gitu ke gue.From Sidharta yang ga kenal Julia,Sidharta Gautama
NB: minta nomor lo!
Sebuah Permulaan
Rabu sore yang cerah dan dingin setelah diguyur hujan, meja
kerja Julia
Julia termenung di depan laptop sambil menggerakkan naik-turun kedua jari telunjuknya di atas keyboard. Sudah tiga hari sebuah draf
email tak kunjung dikirimnya.
Gila aja gue ngirim ginian ke Sid, bisa ke-GR-an tu anak.
Tapi gue penasaran sama kabar mereka di sana.
Anak-anak itu, penyelamat masa remaja gue.
Julia bangkit dari kursinya. Mengambil gelas di atas meja
kecil di seberang meja kerjanya, yang memang dikhususkan untuk tempat makanan dan minuman.
Ia kembali ke kursinya lalu menyeruput teh manis yang sudah dingin.
Diliriknya kembali isi draf email itu.
Kepada: SidhartaSubjek: Sid, gue kangen!Sid!Serius lo ga kangen sama gue?Sid!Iya, gue yang kangen banget sama lo.Sid!Gue harap bisa segera bertemu lo.Sid???!!!Balas email ini, ASAP!Kalo engga, kalo engga...Kalo engga, gue bakal spam kangen terus ke inbox lo.
From Julia with love,Rahasia
NB: ga usah pura-pura ga kenal, apa lagi ga kangen sama gue
Big no! Elo ga boleh ngirim ini ke Sid, Jules.
Julia berniat menutup halaman email itu. Niat yang tidak
didukung dengan gerak jemari yang lebih mengikuti hati kecil. Telunjuknya malah
menekan mouse tepat pada saat pointer menunjuk tombol ‘Kirim’.
Bego.
Tolol.
Mati, lo, Jules.
Siap-siap dikutuk habis-habisan sama tu bocah.
Wednesday, 2 August 2017
Senda Gurau Sales Kartu Kredit BNI
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah kesempatan sharing session harian di kantor, saya dan rekan-rekan kerja ditawari kartu kredit korporat dari BNI. Kartu kredit korporat ini artinya khusus digunakan untuk kepentingan dinas kantor, dan yang berurusan adalah pihak BNI langsung kepada instansi kantor saya. Di kartu kredit korporat juga DIJANJIKAN AKAN ADA LAMBANG INSTANSI kantor saya, yang menandakan bahwa itu adalah kartu kredit korporat.
Si sales sangat semangat(baca: cenderung memaksa) menawari kami untuk mendaftar layanan kartu kredit ini. Akhirnya karena saya malas melayani dia yang terus-terusan menawarkan kartu, saya daftar, dengan pertimbangan katanya: TIDAK ADA BIAYA yang ditanggung oleh pegawai SELAMA KARTU TERSEBUT TIDAK DIGUNAKAN. Baiklah, mending saya daftar saja dan menyuruh pulang para sales kartu kredit yang berisik ini.
Selang berapa lama setelah itu, saya ditelepon oleh CS (Customer Service) BNI, mengonfirmasi data pribadi saya terkait pendaftaran kartu kredit. Sekali lagi saya memastikan kepada pihak BNI tersebut, apakah BENAR-BENAR TIDAK ADA BIAYA JIKA KARTU KREDIT TIDAK DIGUNAKAN. Dan CS itu menjawab, IYA, TIDAK ADA BIAYA JIKA KARTU KREDIT TIDAK DIGUNAKAN. Saya pastikan itu berkali-kali, dan dijawab pula berkali-kali oleh CS itu bahwa tidak ada biaya. Baiklah, saya iyakan saja, biar cepat selesai urusan ini.
Tidak lama, sampailah kartu kredit itu ke kantor saya. Dusta si sales yang pertama: TIDAK ADA LAMBANG INSTANSI yang dijanjikan, sebagai tanda bahwa itu adalah kartu kredit korporat. Melihat itu, saya ragu untuk mengaktifkannya. Akhirnya kartu kredit tersebut TIDAK PERNAH SAYA AKTIFKAN. Berkali-kali pihak BNI menelepon saya untuk katanya mau membantu mengaktifkan. Tapi selalu gagal, karena saya selalu lupa membawa kartu tersebut. Saya kira tidak akan ada masalah karena selama saya tidak mengaktifkan dan menggunakan kartu tersebut, saya tidak akan dapat tagihan apapun dari BNI.
Kenyataannya berbeda, hari ini, 02 Agustus 2017, saya mendapat Lembar Penagihan Kartu Kredit BNI. Di sana tertera ADA BIAYA YANG HARUS DILUNASI, nominalnya Rp 240.000. Dusta yang kedua dari sales kartu kredit BNI dan CS yang melayani saya tempo lalu.
Pesan dari tulisan ini, jangan 100% percaya kepada sales kartu kredit, karena mungkin saja mereka ditarget untuk mendapatkan jumlah pelanggan sesuai yang ditentukan atasannya, sehingga digunakanlah kalimat manis apapun untuk membujuk calon pelanggan, termasuk berdusta tentang biaya 0%. Perbankan dan orang-orangnya memang pintar bersenda gurau (baca:berdusta).
Si sales sangat semangat
Selang berapa lama setelah itu, saya ditelepon oleh CS (Customer Service) BNI, mengonfirmasi data pribadi saya terkait pendaftaran kartu kredit. Sekali lagi saya memastikan kepada pihak BNI tersebut, apakah BENAR-BENAR TIDAK ADA BIAYA JIKA KARTU KREDIT TIDAK DIGUNAKAN. Dan CS itu menjawab, IYA, TIDAK ADA BIAYA JIKA KARTU KREDIT TIDAK DIGUNAKAN. Saya pastikan itu berkali-kali, dan dijawab pula berkali-kali oleh CS itu bahwa tidak ada biaya. Baiklah, saya iyakan saja, biar cepat selesai urusan ini.
Tidak lama, sampailah kartu kredit itu ke kantor saya. Dusta si sales yang pertama: TIDAK ADA LAMBANG INSTANSI yang dijanjikan, sebagai tanda bahwa itu adalah kartu kredit korporat. Melihat itu, saya ragu untuk mengaktifkannya. Akhirnya kartu kredit tersebut TIDAK PERNAH SAYA AKTIFKAN. Berkali-kali pihak BNI menelepon saya untuk katanya mau membantu mengaktifkan. Tapi selalu gagal, karena saya selalu lupa membawa kartu tersebut. Saya kira tidak akan ada masalah karena selama saya tidak mengaktifkan dan menggunakan kartu tersebut, saya tidak akan dapat tagihan apapun dari BNI.
Kenyataannya berbeda, hari ini, 02 Agustus 2017, saya mendapat Lembar Penagihan Kartu Kredit BNI. Di sana tertera ADA BIAYA YANG HARUS DILUNASI, nominalnya Rp 240.000. Dusta yang kedua dari sales kartu kredit BNI dan CS yang melayani saya tempo lalu.
Pesan dari tulisan ini, jangan 100% percaya kepada sales kartu kredit, karena mungkin saja mereka ditarget untuk mendapatkan jumlah pelanggan sesuai yang ditentukan atasannya, sehingga digunakanlah kalimat manis apapun untuk membujuk calon pelanggan, termasuk berdusta tentang biaya 0%. Perbankan dan orang-orangnya memang pintar bersenda gurau (baca:
Friday, 14 April 2017
Sabtu ke Sekian
Sumber: Google
Ada banyak tulisan lama di laptop. Yang satu ini sudah cukup lama terpendam di dasar folder paling dalam. Lumayan sudah berdebu, namun masih bisa disingkirkan butiran-butirannya, haha apa sih. Beberapa dari nama-nama di bawah ini sudah dimutasi dari kota Parepare :')
Parepare, 27 Agustus 2016
Hari ini, Sabtu, yang ke sekian kalinya aku berada di kota
kecil pinggir pantai ini, Parepare. Sebuah kota yang samasekali tidak pernah
ada di benakku untuk kutinggali. Parepare, sebuah kota kecil dengan keramaian
yang cukup ramai bahkan ketika sudah larut malam. Ya, aku beberapa kali pulang
larut malam, makanya aku tahu keadaan kota ini di waktu-waktu pukul 11 – 12
malam.
Jauh dari orang tua menjadikanku anak nakal yang suka keluar
malam? Tidak, bukan begitu. Aku tidak suka keluar malam, hanya saja, kami tidak
punya waktu lain untuk mengobrol santai bersama kecuali malam hari. Oh, bukan
juga, sih, alasan. Hanya saja mengobrol di malam hari lebih terasa nyaman karena
benar-benar tidak ada aktivitas lain yang menunggu kami. Di pagi atau siang
hari, pasti ada saja yang harus dilakukan. Entah itu mencuci pakaian,
membersihkan rumah, atau mungkin hanya sekadar santai sejenak di atas kasur.
Itulah mengapa kami lebih sering meluangkan waktu mengobrol di malam hari. Oke, mungkin aku sedang mencari pembenaran, yang artinya aku tahu ini tidak benar.
Sejak tadi aku menyebut kami. Mari kuperkenalkan siapa saja 'kami'.
Yang pertama adalah seorang pribumi Sulawesi, tepatnya
Takalar, dia adalah Kak Ratih, yang beruntung mendapat penempatan kerja di
tempat ia bisa kembali meneruskan kuliahnya di Makassar, yang sempat tertunda karena ia harus
menjalani pendidikan prajabatan. Perempuan yang satu ini hobi olahraga.
Dalam seminggu pasti ia meluangkan waktunya untuk aktivitas itu, entah itu main
bulu tangkis di lapangan di kantor atau sekadar mengitari lapangan Andi Makkasau.
Ada lagi perempuan asli Parepare, namanya Hajar, yang rumahnya
terletak tidak sampai satu kilometer dari kantor. What the... beruntung sekali
dia. Si perempuan ini semacam partner in crime-nya Kak Ratih. Mereka sama-sama
boyish. Tapi si perempuan Pare ini boyish-nya boyish-boyish manja. Suasana ngumpul
selalu ramai kalau sama dia. Ada saja komentar konyolnya yang disambut gelak
tawa dari kami semua.
Sudah dua perempuan, sekarang kita beralih ke laki-laki, aku sering
panggil dia Mas Firman. Laki-laki ini sekampung dengan Kak Ratih, di Takalar. Dia
juga satu kampus dengan dengan Hajar, tapi beda angkatan, dia lebih senior.
Laki-laki berbehel ini sedang melanjutkan studi D4 di
Makassar. Alhasil, setiap Sabtu dan Minggu kau tidak akan mendapatinya tinggal
di Parepare karena di hari-hari itu dia harus masuk kuliah. (Omaygad, sabtu
minggu aja masih harus belajar)
Bersama dengan Mas Firman, ada dua orang laki-laki lagi yang
sedang melanjutkan studi. Mereka adalah Mas Fuad dan Mas Dedy. Mereka tinggal
satu kosan di salah satu gang di jalan H. Agus Salim, jalan ini bersebelahan
dengan jalan Bau Massepe yang berisi berbagai macam toko dan rumah makan. Di
jalan ini pula aku pertama kali makan siang di Parepare. Fokus, Da, fokus. Lu
tadi lagi ngomongin Mas Fuad dan Mas Dedy. Baiklah, kembali kepada mereka. Yang pertama ada Mas Fuad. Mas Fuad
ini asalnya dari Jepara, kota pinggir pantai di pulau Jawa sana. Tapi
menurutku, itu bohong. Mana ada anak pantai kulitnya terang melebihi kami para perempuan. Huft.
Bicara soal warna kulit, ada yang kemarin ngeluh kulitnya
menghitam gara-gara terlalu lama mantai (read: main dipantai, akronim macam apa ini) di Kodingareng dan Samalona, dia lah
Mas Dedy. Mas Dedy ini juga asalnya dari Jawa, tepatnya dari Madiun. Dia yang
paling sering ngebecandain saya dengan memasang wajah sok-sok jahat. Hobinya
selfie menggunakan kamera hijau toscanya. Setiap ada acara di kantor, dia
paling sering jadi penanggung jawab dokumentasi.
Panitia dokumentasi lain yang paling sering adalah Sabran,
atau sering juga dipanggil Sabrina, saya sering juga manggil dia Brina. Anak
ini asalnya dari Pangkep, lagi-lagi salah satu daerah di Sulawesi Selatan. Dia
yang paling muda di antara kami. Gayanya yang masih terlihat seperti anak-anak
sering jadi bahan lawakan kami. Pertama kali lihat anak ini, saya kira dia
orang Jawa, karena gestur dan cara berbicaranya berbeda dengan orang-orang
Sulawesi lain yang saya kenal di kantor.
Selain Sabran, laki-laki lain yang ruangannya berada di lantai
dua gedung kantor adalah Mas Farid. Dia bahkan satu ruangan denganku. Duduknya
hampir persis berseberangan denganku. Mas Farid ini merupakan ketua geng kami
karena dia yang paling senior di kantor, di antara kami para generasi 90-an.
Aku sering meminta bantuannya untuk masalah-masalah kantor. Bahkan kadang
masalah di luar kantor pun aku minta tolong ke Mas Farid. Laki-laki berkacamata
asal Jogja ini kalau di rumahnya biasa dipanggil Mas Faid, hihi, lucu, ya.
Berbicara masalah nama panggilan atau nickname, ada satu
laki-laki namanya Ramadhan, tapi kami semua lebih sering memanggilnya Dadan. Laki-laki betawi ini sebenarnya asalnya dari
Padang, tapi sudah cukup lama tinggal di Jakarta. Logat betawinya bisa dibilang
tidak ada sama sekali, hehe. Mas Dadan bekerja satu ruangan dengan Mas Fuad.
Hobinya membanggakan mesin cucinya yang biasa dia tirukan dengan suara ‘tut tut
tut’. Di antara kami semua, baru Mas Dadan yang punya mesin itu, itulah kenapa
dia paling senang memamerkannya.
Masih ada satu lagi laki-laki generasi 90-an di lantai dua, dia
adalah Mas Hendro, asalnya dari Tahuna. Katanya sih pulau paling utara di
Indonesia, hampir dekat Filipina. Kalau kami-kami yang dari Jawa ini langsung
menolak mentah-mentah jika ditawarkan pindah ke Tahuna, beda halnya dengan Mas
Hendro, mungkin dia akan berada pada antrean paling depan jika ada job posting
ke Tahuna. Dia hampir sama putihnya dengan Mas Fuad, rambutnya tajam-tajam menjuntai
ke atas seperti landak. Kalau baru pertama kali ketemu pasti akan menyangka orangnya pendiam, padahal sih, hhhh...
Habis sudah para lelaki perantau kuperkenalkan, sekarang
kembali ke para perempuannya. Ada satu lagi perempuan dari Makassar. Dia satu ruangan
dengan Kak Ratih, bahkan satu kosan juga. Namanya Kak Widya. Dia orang pertama
yang kuhubungi untuk mencari tahu transportasi apa yang harus kutumpangi dari
Kantor Wilayah Makassar menuju kantor di Parepare. Paling susah diajak main sih katanya, haha. Walaupun badannya kecil, Kak Widya udah jago nyetir mobil. Dia pernah berani nyetir mobil dari Makassar ke Parepare.
The last... namanya Teh Dyah, kami tinggal satu kosan. Wanita sunda yang juga ikut-ikutan terdampar di sini ini sudah menikah, dan otomatis
sekarang jauh-jauhan sama suaminya T.T. Paling sering digangguin sama
bapak-bapak di kantor, bahkan sampai nangis, sungguh terlalu. Teteh suka
bingits makanan pedas. Kami pernah masak-masak bareng di kosan, terus teteh bikin
sambal uenak sekali...bikin kangen rumah dan seisinya. Kalau mau makan, pasti
saling tanya:
“Mau makan apa?”
“Apa yah, Teteh mau makan apa?”
“Apa yah bingung...”
Ujung-ujungnya paling beli nasi goreng atau ayam penyet,
menu yang paling sering jadi sasaran kalau sudah bingung mau nentuin makan apa.
Awal-awal aku ngekos di sini, aku selalu nebeng sama si teteh untuk pergi ke
kantor. Kalau udah jam pulang kami saling tunggu-tungguan, so sweet kaan,
hahaha. Tapi sekarang udah engga, kasihan juga teteh kalau nungguin aku terus. Makanya
kuputuskan untuk beli motor baru.
Eh, ngomong-ngomong soal motorku, seminggu yang lalu aku
dapat pengalaman cukup mendebarkan, sampai mau nangis, udah sempat keluar air
mata malah. Next post kalau ada kesempatan nulis akan kuceritakan, wkwk, bilang
aja males. Penulis macam apa sih gue.
Baiklah, sekian tulisan kali ini. Itulah tadi teman-teman
seperjuangan di kantorku di Parepare, teman-teman yang membantu mengubah duka
jauh dari kampung halaman menjadi suka. May God always bless our relationship.
Tuesday, 21 June 2016
Ke Manapun Kalian Pergi, Ingatlah...
Found this writing in my drafts. It has been there too long, for over a year. Here it is, I'm going to finally let this one published.
Tidak tahu kenapa, malam ini tiba-tiba saya sedang ingin
mengenang masa-masa yang dulu pernah saya lalui bersama teman-teman saya. Malam
ini saya menonton video yang dibuat ketika kami kuliah tingkat dua. Waktu itu
kami begitu akrab, begitu terlihat bersama, begitu akrab... Walaupun hingga
saat ini kami masih berteman, kebersamaan yang dulu pernah ada itu seolah sulit
untuk terulang kembali. Kesibukan, prinsip, dan keegoisan menjadi beberapa
alasannya.
Dalam video itu kami membahas isi sebuah novel. Kemudian
kami berakting seolah sedang berdiskusi di kelas kami, di lantai tiga Gedung Kuliah Baru, tempat kami untuk pertama kalinya dipertemukan. Lucunya, dalam
video itu juga kami membuat tulisan ‘Ke manapun kalian pergi, ingatlah, kita
pernah bahagia di sini’ yang merupakan salah satu kutipan di dalam novel
tersebut. Anyway, seperti firasat,
bukan?
Teman, jangan lupakan yang pernah kita lalui bersama. Kenangan
itu akan jadi hiburan kita di masa yang akan datang. Kenangan itu sebagai
pengingat bahwa kita pernah tertawa dan kesal bersama. Maafkan kesalahan yang
tidak disengaja, khususnya saya sendiri, maafkan ketidakpekaan di antara kita
yang akhirnya membawa kita pada sebuah persimpangan jalan dan kita pun memilih jalan
kita masing-masing.
“Ke manapun kalian pergi, ingatlah, kita pernah
bahagia di sini.”
Tuesday, 19 April 2016
Diklat Prajabatan PLN Angkatan 49 (Part 1)
Hampir lima bulan saya tidak bertemu dengan keluarga di rumah demi menunaikan kewajiban sebelum menjadi seorang pegawai PT PLN (Persero). Selama itu pula saya mendapat banyak sekali pengalaman baru. Alhamdulillah setelah lima bulan itu akhirnya kami mendapatkan penempatan kerja kami masing-masing. Saya ditempatkan di Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat bersama tiga orang teman saya yang berasal dari Bandung.
Baiklah, mari kita coba putar waktu mulai dari sekitar pertengahan bulan November 2015.
1. Penjelasan Diklat dan Penandatanganan Kontrak - 1 hari (pertengahan November 2015)
Setelah diumumkan nama-nama peserta yang lolos tahap wawancara, kami diundang untuk menghadiri penjelasan diklat dan penandatangan kontrak di kantor Disjabar di jalan Asia Afrika, Bandung. Di sana kami dijelaskan mengenai apa saja yang akan kami lakukan selama masa diklat prajabatan, yang pada saat itu diperkirakan akan berlangsung selama 7 - 12 bulan.
Setelah penjelasan diklat, kami melakukan penandatanganan kontrak, di antaranya kontrak bahwa kami bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia, bersedia tidak menikah selama masa diklat prajabatan, bersedia terikat selama 5 tahun dengan PLN (kalau keluar harus bayar penalti, Rp 75 juta untuk D3 dan Rp 90 juta untuk S1), dan bersedia tidak menikah dengan sesama pegawai PLN.
2. Kesamaptaan - 10 hari (minggu terakhir November 2015)
Saat itu adalah malam minggu. Saya sibuk mengepak baju saya ke dalam koper 21" dan satu ransel. Barang-barang yang saya bawa antara lain kemeja putih, celana panjang hitam, kerudung hitam, handuk, baju tidur, sepatu pantopel hitam, sepatu olahraga, stelan training, alat mandi, obat, serta gadget.
Keesokan paginya, hari Sabtu yang masih gelap gulita, sekitar pukul 4, saya berangkat ke kantor Disjabar. Dan ternyata masih sepi banget, guys, HAHA. Sekitar pukul 6, peserta diklat sudah berkumpul di Disjabar dan bersiap menuju lokasi kesamaptaan di Pusdikajen, Lembang. Sekitar pukul setengah 7, tiga bis meluncur dari jalan Asia Afrika menuju Lembang. Tidak lama berselang, kami sampai di Pusdikajen. Hari itu hari minggu, kegiatan kesamaptaan belum resmi dibuka.
Hari itu kami baru dibagikan setelan mirip hansip hijau-hijau, topi, ikat pinggang + botol minum, sepatu boot + 2 pasang kaos kaki hitam, 1 buah ember yang berisi sendal jepit, semir dan sikat sepatu, mie instan, sendok, beras. Setelah itu kami dibagi kelompok, saat itu saya termasuk dalam kompi B pleton 2, atau kami biasa menyebutnya pleton B2. Hari itu para komandan belum menunjukkan taring mereka, mereka berdalih bahwa kesamaptaan belum resmi dibuka, jadi kami masih bisa sedikit bersantai.
Benar saja, keesokan harinya neraka yang sesungguhnya baru dimulai. Kegiatan selama kesamapataan yang paling melelahkan itu seperti jalan jongkok, jongkok-berdiri-jongkok-beridiri, dan makan cepat. Di sana acara makan-makan menjadi sangat horor karena kami harus makan sangat cepat dengan porsi makanan yang bisa dibilang cukup banyak. Lauk makanan semenggiurkan apapun sama sekali tidak terasa karena hampir setiap hari makanan yang kami makan dihabiskan dengan tanpa dinikmati oleh lidah, melainkan asal masuk saja ke perut. Kalimat "Dorong pakai air!" yang diteriakkan para komandan menjadi teman makan kami selama di sana.
Kegiatan yang paling mengasyikkan yang saya ingat adalah simpur (simulasi tempur). Di situ pertama kalinya saya bermain paint ball. Cukup mendebarkan bagi saya karena katanya bila tertembak musuh, pelurunya itu sakit bukan main. Untung saya tidak pernah mati tertembak. Saya mati karena musuh berhasil merebut bendera kami lebih dulu dan di kesempatan berikutnya saya terkena freeze oleh musuh.
Selama kesamaptaan kami diajarkan banyak lagu yang di antaranya bahkan terus dinyanyikan hingga akhir penutupan diklat prajabatan. Beberapa lagu dari Pusdikajen di antaranya:
Baiklah, mari kita coba putar waktu mulai dari sekitar pertengahan bulan November 2015.
1. Penjelasan Diklat dan Penandatanganan Kontrak - 1 hari (pertengahan November 2015)
Setelah diumumkan nama-nama peserta yang lolos tahap wawancara, kami diundang untuk menghadiri penjelasan diklat dan penandatangan kontrak di kantor Disjabar di jalan Asia Afrika, Bandung. Di sana kami dijelaskan mengenai apa saja yang akan kami lakukan selama masa diklat prajabatan, yang pada saat itu diperkirakan akan berlangsung selama 7 - 12 bulan.
Setelah penjelasan diklat, kami melakukan penandatanganan kontrak, di antaranya kontrak bahwa kami bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia, bersedia tidak menikah selama masa diklat prajabatan, bersedia terikat selama 5 tahun dengan PLN (kalau keluar harus bayar penalti, Rp 75 juta untuk D3 dan Rp 90 juta untuk S1), dan bersedia tidak menikah dengan sesama pegawai PLN.
2. Kesamaptaan - 10 hari (minggu terakhir November 2015)
Saat itu adalah malam minggu. Saya sibuk mengepak baju saya ke dalam koper 21" dan satu ransel. Barang-barang yang saya bawa antara lain kemeja putih, celana panjang hitam, kerudung hitam, handuk, baju tidur, sepatu pantopel hitam, sepatu olahraga, stelan training, alat mandi, obat, serta gadget.
Keesokan paginya, hari Sabtu yang masih gelap gulita, sekitar pukul 4, saya berangkat ke kantor Disjabar. Dan ternyata masih sepi banget, guys, HAHA. Sekitar pukul 6, peserta diklat sudah berkumpul di Disjabar dan bersiap menuju lokasi kesamaptaan di Pusdikajen, Lembang. Sekitar pukul setengah 7, tiga bis meluncur dari jalan Asia Afrika menuju Lembang. Tidak lama berselang, kami sampai di Pusdikajen. Hari itu hari minggu, kegiatan kesamaptaan belum resmi dibuka.
Hari itu kami baru dibagikan setelan mirip hansip hijau-hijau, topi, ikat pinggang + botol minum, sepatu boot + 2 pasang kaos kaki hitam, 1 buah ember yang berisi sendal jepit, semir dan sikat sepatu, mie instan, sendok, beras. Setelah itu kami dibagi kelompok, saat itu saya termasuk dalam kompi B pleton 2, atau kami biasa menyebutnya pleton B2. Hari itu para komandan belum menunjukkan taring mereka, mereka berdalih bahwa kesamaptaan belum resmi dibuka, jadi kami masih bisa sedikit bersantai.
Benar saja, keesokan harinya neraka yang sesungguhnya baru dimulai. Kegiatan selama kesamapataan yang paling melelahkan itu seperti jalan jongkok, jongkok-berdiri-jongkok-beridiri, dan makan cepat. Di sana acara makan-makan menjadi sangat horor karena kami harus makan sangat cepat dengan porsi makanan yang bisa dibilang cukup banyak. Lauk makanan semenggiurkan apapun sama sekali tidak terasa karena hampir setiap hari makanan yang kami makan dihabiskan dengan tanpa dinikmati oleh lidah, melainkan asal masuk saja ke perut. Kalimat "Dorong pakai air!" yang diteriakkan para komandan menjadi teman makan kami selama di sana.
Kegiatan yang paling mengasyikkan yang saya ingat adalah simpur (simulasi tempur). Di situ pertama kalinya saya bermain paint ball. Cukup mendebarkan bagi saya karena katanya bila tertembak musuh, pelurunya itu sakit bukan main. Untung saya tidak pernah mati tertembak. Saya mati karena musuh berhasil merebut bendera kami lebih dulu dan di kesempatan berikutnya saya terkena freeze oleh musuh.
Selama kesamaptaan kami diajarkan banyak lagu yang di antaranya bahkan terus dinyanyikan hingga akhir penutupan diklat prajabatan. Beberapa lagu dari Pusdikajen di antaranya:
Derap langkah nan gagah perkasa
Seirama dan satu suara
Sambil bernyanyi lagu hura-hura
Itulah kami siswa PLN
Ayun kakimu kiri dan kanan (kiri kanan)
Atur langkah jaga kerapihan
Jangan sampai merusak barisan
Banjar dan shafnya harus diluruskan 2x
Selamat tinggal kekasihku
Aku pergi tak kan lama
Hanya 10 hari saja
Kita pasti berjumpa pula
Oaeooo oaeooo oaeo oaeo (oaeo) 2x
Dari segala penjuru
Kami datang tuk bersatu
Siang malam tak terasa
Suka duka di Pusdikajen
Oaeooo oaeooo oaeo oaeo (oaeo) 2x
Sepuluh hari ku di Pusdikajen
Kami datang dengan keyakinan
Dididik dibina ditempa
Tuk jadi PLN yang jaya (hahaha)
Walau beda suku ras agama
Susah senang kita sama-sama
Satukan tekad dan tujuan
Tuk jadi PLN yang jaya (hahaha)
PLN beraksi walau panas terik matahari
Berjuta kali PLN beraksi bagiku itu langkah pasti
Hari-hari esok adalah milik kita, PLN kebanggaan negara
Gegap gempita kami PLN yang selalu semangat lima-lima
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu, lagu kemenangan
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu, lagu kemenangan
Bersambung.
Subscribe to:
Posts (Atom)
